Categories
Event Calendar
November 2008
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Siapa menebar duit, dia yang menuai standard

Seperti lirik lagu group rock lama dari Bandung, Giant Step, “Geregetan … jadinya geregetan, apa yang harus kulakukan“. Begitulanperasaan saya mendengar ngebetnya Microsoft melakukan legitimasi format MS Office sebagai standar terbuka ISO DIS 29500 (Office OpenXML atau OOXML). Untuk memenuhi ambisi itu dilakukan  “fast track procedure” pada 13 Juli 2007 di Italia. Untuk menjamin bahwa keputusan berpihak pada format OOXML, banyak perusahaan partner Microsoft didaftarkan ke dalam komite yang memberikan suara.  Berita terakhir dari pengambilan suara di Swedia yang menunjukkan bukti bahwa Mcrosoft bermain “uang” dengan mengerahkan partnernya dalam pemberian suara. Untung diketahui publik sehingga perhitungan suara tak sah. Bahkan lobby Microsoft meminta pemrintah USA melalui duta besarnya mendekati pemerintah EU agar menerima OOXML.

Bukan hanya karena Microsoft main duit dan main kayu, tetapi  melihat sepinya tanggapan para akademiso dari kampus di Indonesia membuat saya makin geregetan. Bahkan menurut desas-desus, wakil kampus yang duduk dalam penentu vote ISO selalu mendukung OOXML sebagai standard ISO. Sepertinya wakil kampus ternama itu tidak mengetahui bahwa telah adanya standard sejenis ISO 26300. Bahkan OOXML konflik dengan standar ISO 8601 (penyajian tanggal dan waktu), ISO 639 (kode untuk representasi nama dan bahasa), atau ISO/IEC 10118-3 (hash kriptografi). Lembaga pendidikan seharusnya bisa melihat apa yang baik bagi masa depan bangsa ini. Bukan sekedar hitung-hitungan untung-rugi jangka pendek.  Melihat ngototnya Microsoft serta apa yang dilakukannya seharusnya kita tidak menjadi sedikit hati-hati dengan janji-janji tersebut.  Apalagi bila kita mengetaui saat ini sudah ada  Open Document Format (ODF) yang merupakan ISO 26300. Format ini menjadi salah satu format yang didukung oleh OASIS (Organization for the Advancement of Structured Information Standards) [http://www.oasis-open.org].

Beda nyata antara standard OOXML dan ODF bak impian dan kenyataan  OOXML adalah standard impian yang penuh dengan janji-janji. Hingga saat ini OOXML belum diimplementasikan secara teruji, karena MS Office 2007 menggunakan format berbeda dengan OOXML yang diajukan sebagai standard OOXML. Sedangkan ODF telah digunakan di OpenOffice, StarOffice, AbiWord, KOffice, Euro Office 2007, TextMaker, IchiTaro dan sebagainya. Dengan spesifikasi OOXML  setebal 6000 halaman, sepertinya tidak memberikan kesempatan pihak di luar Microsoft untuk dapat mengimplementasikannya. Rumitnya spesifikasi ini disebabkan OOXML mencoba mendukung format binary proprietary legacy dari produk Microsoft. Jadi melalui standardisasi ISO, MS mencoba memperoleh legitimasi untuk mempertahankan monopolinya di bidang aplikasi perkantoran.  Juga ada problem di format spreadhsheet yang menyebabkan tanggal sebelum 1900 dak dapat dimasukkan. Hal ini mempengaruhi spesifikasi OOXML dan juga program ang mengaplikasikannya seperit MS Excell 2000, XP, 2003 dan 2007.  Konyolnya lagi  lebih dari 10% dari contoh yang dilampirkan pada standard proposal tersebut tak tervalidasi sebagai XML. Jadi secara teknis standard ini belumlah siap dan terkesan diajukan secara tergesa-gesa karena menghadapi diakuinya ODF sebagai standard ISO. Salah satu contoh sederhana permaslahan OOXML ini ditunjukkan di [http://ooxmlisdefectivebydesign.blogspot.com/].
Faktor lain adalah, bagaimana di masa depan peran dan ketergantungan Indonesia sebagai negara berkembang akibat diterapkannya standard ini ? Mungkinkan kita turut aktif memanfaatkan membuat implementasi sendiri dari OOXML ini atau tak punya pilihan lain selain  membeli MS Office. Dengan spesifikasi setebal 6000 halaman (dan belum lengkap ini), yang hanya dikembangkan hanya oleh Microsoft tanpa melibatkan pihak lain,  rasanya sulit sekali pihak di luar Microsoft. Bahkan  tak ada jaminan bahwa seseorang dapat membuat implementasi dari spesifikasi OOXML tanpa terkena paten atau tidak membayar paten yang dimiliki Microsofot.
Format merupakan hal penting di dalam pengarsipan dokumen pemerintah. Badan pemerintah selalu menghasilkan banyak sekali dokuemen untuk publik yang diharapkan tetap bertahan dan dapat dibuka di masa mendatang. Brazil, India, Prancis, Denmark, Belgia, Malaysia, Kroatia, Norwegia, Spanyol dan Argentina telah menentukan bahwa ODF merupakan standard untuk dokumen pemerintah dan menolak OOXML.  Negara EU pada konferensi 28  Maret 2007 meminta format yang benar-benar dapat menjamin pertukaran data, yang disebut Open Document Exchange Format (ODEF) Format tersebut bisa dikatakan saat ini belum dapat dipenuhi oleh OOXML ataupun ODF. Tetapi ODF memiliki kemungkinan lebih diterima karena sifat keterbukaannya sehingga hanya perlu penambahan fitur yang kurang saja. Syarat keterbukaan dan implementasi tak termonopoli merupakan syarat penting dalam standard di EU.

Bila diperhatikan negara-negara berkembang yang menolak OOXML adalah negara-negara berkembang yang mulai bangkit kekuatan TI-nya dan merasa mampu mengembangkan kebutuhan teknologinya. Bagaimana dengan Indonesia? Kita selalu telmi. Bila pemerintah Malaysia telah menentukan sikap dengan bergabung ke ODF Alliance. Pemerintah Indonesia masih bengong-bengong saja dan terkesan masa bodoh. Walau dikemas dengan alasan bahwa pemerintah itu harus netral. Atau kita bereaksi setelah ada bencana, atau mengganti setelah mengalami kerugian ?

Jangankan menolak, memikirkan hal ini dan dampaknya saja belum. Masih sedikit orang yang mempertimbangkan hal ini, termasuk para akademisi dan mereka yang menamakan dirinya peneliti bidang ICT. Sepertinya kita masih tertidur lelap, tanpa menyadari bahwa pemilihan teknologi yang tidak tepat dapat mengakibatkan terbelenggunya masa depan pengembangan teknologi Indonesia. Lembaga pendidikan Indonesia tampaknya masih belum memiliki idealisme untuk bangsa dan rakyat. Pertimbangannya hanyalah jangka pendek, selama lembaga pendidikan itu mendapat discount untuk aplikasi yang murah, persoalannya lainya tidak penting. Bagaimana bila ada kebergantungan ? Bagimana bila tak ada chance untuk mengembangkan diri sendiri ? Belumlah menjadi pertimbangan lembaga pendidikan. Jadi sangatlah pesimis suara yang mewakili lembaga pendidikan tinggi untuk memberikan suara ke ISO akan memilih menolak OOXML ini.

Memilih platform teknologi ini tidak hanya sekedar masalah teknologi atau ekonomi saja. Kini harus juga dipertimbangkan sebagai masalah ketahanan negara. Kita harus belajar dari kejadian disusupinya komputer di kantor pemerintah Jerman dan perusahaan Jerman oleh Trojan dari China yang melakukan spionase. Trojan ini disusupkan melalui attachmet document Doc, spreadsheet dari MS Office. Padahal kita tahu, negara seperti Jerman telah begitu serius menangani keamanan komputer yang menggunakan MS Windows. Anti-virus, spyware, patch terakhir selalu rutin dilakukan. Toh tetap kebobolan juga, karena kemampuan untuk menutupi kekurangan teknologi itu bergantung pada 1 perusahaan saja, yaitu Microsoft. Bayangkan bila hal tersebut terjadi dengan format dokumen perkantoran yang sangat penting bagi operasional kantor pemerintahan. Menggantungkan pada standard ISO yang kenyataannya hanya Microsoft yang dapat menguasainya, sama saja menggantungkan masa depan negara ke Microsoft.

Jadi cukup jelas “Say No to OOXML” seperti kata situs No OOXML http://www.noooxml.org/petition

Tags:

Leave a Reply