Categories
Event Calendar
November 2008
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Melihat kebutuhan dengan tepat

Di komunitas milis dosen dan peneliti sistem informasi Indonesia, RSITI terjadi diskusi tentang penggunaan MS Office di kampus. Keberatan para dosen atau mahasiswa menggantikannya dengan OpenOffice atau LyX, adalah kemampuannya belum bisa memenuhi kebutuhan. Sayangnya pernyataan ini tidak didukung dengan data lebih akurat mengenai kebutuhan yang apa. Mungkin sudah saatnya para dosen sebelum mengeluarkan klaim seperti ini, terlebih dahulu melakukan studi kecil ala Relevantive [http://www.relevantive.de]. Sebab bisa saja keberatan itu karena faktor kebiasaan saja. Kebiasan menyabet program bajakan menjadikan jarang memikirkan kebutuhan yang sesungguhnya.

Sebelum memutuskan apakah memang MS Office itu tak dapat ditawar untuk mahasiswa dan dosen, kita perlu memahami kebutuhan terlebih dahulu yang sesuai dengan tugas dan pekerjaan (task) para dosen dan mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa membutuhkan pengolah kata untuk mengetik laporan, skripsi, dan membuat presentasi. Jadi dibutuhkan perangkat lunak yang dapat menulis teks, tabel, gambar, serta mengatur tata letaknya secara konsisten. Memang ada bidang tertentu yang memiliki kebutuhan khusus seperti disain gambar, dan sebagainya. Untuk itu mari kita lihat sejarah perkembangan penggunaan komputer di dalam tugas pembuatan dokumen. Penggunaan komputer untuk mengolah dokumen sempat menjadi trend penuh hype yang disebut paperless office, sayangnya hal itu tak tercapai, pohon tetap tertebang, kertas tetap dibutuhkan.

Ada beberapa pendekatan menghasilkan dokumen menggunakan komputer. Pemanfaatan komputer untuk hal ini, dimulai dengan program jenis pengolah teks (text processor). Troff [http://www.troff.org] dikembangkan Joe Osana pada tahun 1973 di PDP-11 untuk mesin typesetter khusus. Brian Kernighan pada tahun 1979 memodifikasi sehingga bisa untuk beberapa keluaran. Kemudian TeX [http://www.tug.org/] yang dikembangkan oleh Donald Knuth sejak tahun 1977, karena tidak puas dengan kualitas typesetting ketika menuliskan bukunya yang terkenal The Art of Computer Programming. Tidak saja mengembangkan pengolah teks saja, Knuth juga mengembangkan bahasa deskripsi huruf METAFONT dan jenis huruf Computer Modern. TeX ini bertujuan agar siapa saja dapat membuat buku dengan tata huruf berkualitas tinggi, dan bersifat portabel. Untuk mempermudah penggunaan TeX, Leslie Lamport pada tahun 1985 mengembangkan macro yang dikenal dengan nama LaTeX [http://www.latex-project.org/] yang sangat dikenal untuk penulisan artikel ilmiah terutama bidang ilmu alam dan rekayasa.

Mulainya penggunaan komputer bersifat interaktif, memberikan dampak juga. Dari yang cenderung berorientasi ala proses batch seperti troff, dan TeX. Sekarang berubah menjadi interaksi langsung pengguna melakukan manipulasi bentuk ke dokumen yang dibuatnya. Munculah aplikasi wordprocessor Bravo yang dijalankan di mesin Xerox Alto. Sistem yang menjadi cikal bakal GUI saat ini. Pengolah kata memungkinkan pengguna melakukan pengetikan naskah dan pengaturan tata letak secara langsung di layar. Interaktifitas ini menjadi sangat menarik, karena terasa lebih mudah. WordStar, Word Perfect, Chi Writer, dan Amiword dikenal di Indonesia terlebih dahulu, sebelum MS Word, mewabah. Tentu saja ada juga yang Open Source ada seperti OpenOffice http://www.openoffice.org, AbiWord [http://www.abisource.com/], KWord [http://www.koffice.org].

Berikutnya timbul aplikasi jenis desktop publishing (DTP), yang diawali oleh PageMaker di tahun 1985 di Apple Macintosh. Sedangkan untuk DOS dikenal Ventura. Saat ini yang banyak digunakan adalah QuarkXPress, InDesign, dan Scribus [http://www.scribus.net/]. Program jenis ini memiliki fokus pengaturan tata letak visual seditail dan sefleksibel mungkin. Sehingga cocok misal untuk membuat sampul, majalah, atau pamflet, tapi kurang cocok untuk disertasi atau laporan. DTP dan word processor mengedepankan prinsip WYSIWYG (What You See is What You Get). Sayangnya hal itu tidak selalu tercapai, karena sering ketika printer berubah, atau keluaran berubah, proses tata letak harus diulang kembali. Kritik tentang wordproseor ini ditulis Allin Cottrell berjudul Word Processors: Stupid and Inefficient [http://www.ecn.wfu.edu/~cottrell/wp.html]

LyX [http://www.lyx.org], bisa dikatakan program untuk membuat dokumen yang merupakan persilangan antara konsep pengolah kata dan pengolah teks. Pada dasarnya LyX ini seperti front-end LaTeX, tetapi berbeda dengan front-end LaTeX seperti Kile [http://kile.sourceforge.net/] yang masih beroperasi dengan perintah LaTeX. LyX mengambil model pengoperasian pengeditan dokumen seperti pengolah kata. Tetapi untuk proses akhir menggunakan LaTeX. Keuntungan ini menghasilkan LyX dapat mengatasi kekurangan yang ada di pengolah kata misal ligatur, kerning, spasi yang fleksibel dan sebagainya. Tetapi tetap mudah mengoperasikannya karena pengguna tak perlu menghafal perintah-perintah LyX. Alih-alih menerapkan konsep WYSIWYG, LyX meenerapkan prinsip WYMIWYG (What You Mean Is What You Get).  Pilihan program lainnya yang menggunakan LaTeX sebagia back-end adalah TeXmacs [http://www.texmacs.org/].

Di sinilah perlunya penggunaan tool yang tepat, untuk pekerjaan tepat. Dengan LyX dapat dengan mudah dihasilkan dokumen yang memiliki format konsisten dan memiliki typesetting yang rapih, seperti laporan, skripsi, buku catatan kuliah dan sebagainya. Tapi untuk pamflet kurang cocok. Bagi mahasiswa dan dosen LyX sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan menghasilkan dokumen-dokumen kebutuhan perkuliahan. Dari pengalaman saya sebagai dosen pembimbing, mahasiswa tidak mengalami kesulitan mempelajari LyX, walau baru mengenalnya ketika menulis skripsi. Dalam 3 bulan selama mereka mengerjakan skripsi, tidak mengalami kesulitan berarti memanfaatkan LyX untuk menghasilkan dokumen skripsi. Bahkan mereka sering takjub ketika melihat hasil akhirnya seperti buku yang dicetak penerbit international.

Portabilitas keluaran serta usia dokumen perlu juga difikirkan, sebab ini bisa menjadi bom waktu di kemudian hari. Begitu banyak dokumen-dokumen lama di kampus, misal skripsi, hasil penelitian, laporan yang tersimpan dalam format Wordstar, ChiWriter, Wordperfect, Word (dalam berbagai versi yang tak saling kompatibel). Ketika beberapa tahun kemudian ingin dibaca atau dicetak kembali menjadi sulit. Memang langkah pintasnya diketik ulang, untungnya tenaga tukang ketik tidak begitu mahal, tetapi bukankah ini suatu bentuk inefisiensi yang seharusnya bisa dicegah dari awal, bila para akademisi berfikir panjang untuk menggunakan format dokumen yang tepat. Dokumen LaTeX lama tetap bisa dibuka walau telah 10-20 tahun dan dihasilkan keluaran akhir dengan tampilan yang tak berubah. Portabilitas dan usia dokumen menjadi lebih baik. Dokumen yang dihasilkan akademisi biasanya diharapkan berusia lama dan dapat digunakan kembali oleh orang lain.

Jadi sebelum mengeluh bahwa untuk kebutuhan mahasiswa atau staf dosen, MS Office itu tak bisa ditawar lagi, mari kita melakukan inventarisasi kebutuhan terlebih dahulu. Apalagi lembaga pendidikan berisi banyak orang pintar.

. Bila banyak kampus di Indonesia berambisi menjadi kampus berstandard international, perlu juga memgetahui perangkat bantu apa yang sering digunakan untuk berkomunikasi secara tulisan oleh para ilmuwan dan akademi internasional. Salah satunya adalah LaTeX. Tidak percaya ? Lihat saja jurnal seperti IEEE, ACM, Kluwer, Springer Verlag dan sebagainya, menyediakan template untuk LaTeX atau mengharapkan naskah yang ditulis menggunakan LaTeX.. Kalau di LN untuk jurusan ilmu alam dan rekayasa, LaTeX itu sudah seperti standard, di Indonesia saat ini mahasiswa bidang itu masih sedikit sekali yang pernah mendengar. Bila ditanya apakah pernah tahu LaTeX ? Sering jawabnya Oh temannya DUREX, atau apa makanan juga seperti Lotek. ?

Leave a Reply